Iren : Born To Be a Story Teller

Senangnya bisa menginspirasi orang untuk menulis lagi. Jadi kali ini, saya mau cerita tentang sahabat saya Iren Aldriana, si pengusaha lulur, dan penulis hebat yang bisa membuat orang tertawa terbihik-bihik, dengan gaya bahasanya yang absurd, tapi ngena.

Saya masih inget banget, ketika dulu saya kelas 6 SD (ini sesudah kita sahabatan dan melewati kejadian kelas 4 SD yang membuat kita bedua musuhan check disini ceritanya) Iren menelepon saya, kalau tulisannya yang saya juga lupa tentang apa, kalau nggak salah sih “Bersekolah dengan perahu”, dimuat di Percil. Percil adalah salah satu segmennya koran lokal Pikiran Rakyat, dan susah banget loh, kalau tulisannya mau dimuat di Percil, seenggaknya kita harus berlomba-lomba dengan banyak sekolah unggulan lainnya. But she did! Iren did! Dari situ, saya yakin banget she will be a great story teller!

Keyakinan saya makin bertambah, ketika tau kalau dia juga suka menggambar dan bikin komik! Percaya nggak percaya, Iren yang sekarang jadi pengusaha lulur, udah punya bakat bisnis dari SD. Waktu kelas 4 SD, dia jualan komik by request. Dulu sih, komik yang dia buat tuh NGEHITS banget, dari mulai cerita detektif, fairy tale, cerita hantu, only Rp.2000,-! Booookk.. 2 rebu perak jaman dahulu kala bisa jajanin 1 sekolahan bakso kaliii!

Waktu terus berlalu, kami pun beranjak SMP. Ternyata, kesukaannya dalam menulis nggak sampai disitu aja. Iren pun mulai bikin novel-novel yang bintangnya selalu saya dan Sasha (sahabat kita yang lainnya). Tapi entah kenapa, di novelnya itu saya selalu di bully. Pokoknya bagian yang rese-rese, nyebelin-nyebelin, lemot, dll, selalu menjadi karakter saya. But sure! Iren’s novel was awesome! Everybody loved it. Dari mulai cerita cinta anak SMP, cerita terbang ke dunia mimpi, sampai cerita hantu di sekolah, dia bisa membuat alurnya menjadi cantik dan menegangkan! At least untuk ukuran anak SMP, saya cukup terhibur.

Menjelang SMA, saya agak kecewa. Iren jarang lagi menulis, hampir tidak pernah. Kebanyakan pacaran dan terbuai dengan masa-masa begernya. Tapi, pas SMA dia jadi penyiar radio 99ers yang dulu tuh, kalo masuk situ artinya lo GAOL ABES, padahal siarannya juga jam 4 – 6 pagi (lupa seberapa paginya, yang jelas pagi banget). Lucunya, dulu saya sering banget dengerin dia siaran pagi-pagi buta, sambil ngantuk2 lemes gara-gara siarannya yang rada-rada jayus dan ABEGEH banget.

Iren dan saya memang terpisahkan selama SMA. Tapi jangan sedih! Kita akhirnya bersama lagi pas kuliah. Kami berdua kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi dago pojok. Kalau saya, dari dulu emang pengennya masuk dunia PR. Nggak pengen masuk jurnalistik, karena nulisnya ga jago-jago amat. Ga pengen juga masuk broadcast, karena ngga bisa siaran. Kenapa masuk PR, karena menurut saya, saya hanya cocok di bidang itu.

Tapi iren? Dia pinter nulis, she’s a great story teller, she loves to illustrate the worst pictures into a beautiful words. Malahan saya kaget, kenapa dia nggak masuk sastra aja sekalian. Atau mungkin jurnalistik, yang lebih sering menulis daripada bersilat lidah.

Lalu setelah kita lulus kuliah, dan saya melanjutkan kerja, entah kenapa jadi saya yang suka nge blog. Melihat teman-teman di sekitar saya yang pada seru-seruan nge blog, memotivasi saya untuk bikin blog ini.

Saya bercerita sama iren, bagaimana kita bisa memotivasi diri kita, dan menunjukan eksistensi kita melalui sosial media dan blog. Dia punya cerita yang menarik untuk diangkat. Kehidupan sehari2nya yang konyol dan lucu, dan juga pengalaman berbisnis onlinenya yang sukses banget, passion-nya terhadap dunia kecantikan, pernikahannya, dan kecintaannya sama keluarga juga teman-temannya.

Dan akhirnya sekarang dia menulis :’) Senang rasanya bisa meng-encourage sahabat saya untuk menulis lagi :’)

Iren Aldriana Official Blog : http://irenaldriana.wordpress.com/

Advertisements